Menyikapi Maraknya Tawuran Pelajar Saat ini

https://ppkn.guruindonesia.id/2019/03/berikan-pendidikan-anti-korupsi-sejak.html
Menyikapi Maraknya Tawuran Pelajar Saat ini
ppkn.guruindonesia.id - Dunia Pendidikan masih prihatin dan berduka dengan masih banyaknya kejadian yang sangat memalukan dan tidak bermoral yang dilakukan oleh pelajar. Sudah tidak asing di telinga kita mendengan kata Tawuran yang marak terjadi antar pelajar di negeri ini. Tawuran adalah kenakalan/kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok pelajar dengan kelompok pelajar lainnya. Bahkan bukan “hanya” antar pelajar setingkat SD, SMP, SMK, tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi merupakan hal yang wajar pada remaja.

Selain di Daerah, di kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi, dan sudah banyak memakan korban bahkan tidak sedikit yang meninggal dunia dengan cara yang sia-sia.

A. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA TAWURAN 
1. Faktor Internal 
  • Frustasi Negatif yang dimasukan dalam adaptasi yang salah 
  • Gangguan tanggapan dan pengamatan pada remaja, sehingga timbul interprestasi yang keliru dan salah akibatnya remaja menjadi agresif menghadapi tekanan-tekanan dan bahaya yang timbul sehingga anak liar dan cepat marah sehingga mudah menyerang. 
  • Gangguan berfikir dan intelegensi pada diri kalangan remaja
  • Gangguan emosional atau perasaan pada remaja 
  • Tumbuhnya Jiwa premanisme
  • Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Maksud Kompleks di sini adalah adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang, akan tetapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Pada umumnya mereka mudah putus asa, mudah/cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang/pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Umumnya Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.
  • Kurang Tegas Tindakan Hukum sehingga remaja yang tawuran merasa tidak takut akan sanksi yang mereka terima dan tidak ada efek jera.
2. Faktor Eksternal 
  • Faktor keluarga. Permasalahan dirumah yang dipenuhi dengan kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika tumbuh remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Orang tua yang terlalu berlebihan dalam melindungi anaknya akan membuat remaja tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Saat bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirinya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
  • Faktor sekolah. Sekolah jangan hanya dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Akan Tetapi sekolah sebaiknya terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar aktif disekolah (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.), hal ini akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. Disinilah sekolah harus segera mengambil peranannya untuk memecahkan masalah mereka.
  • Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku berkelahi.
B. DAMPAK PERKELAHIAN PELAJAR
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. 
  1. Pelajar yang terlibat akan mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas.
  2. Rusaknya fasilitas sosial dan fasilitas umum seperti Sekolah, bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. 
  3. Terganggunya proses belajar di sekolah. 
  4. Mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
C. UPAYA YANG HARUS DILAKUKAN 
  1. Tindakan hukum yang tegas dengan efek jera yang membuat mereka tidak berani melakukannya kembali
  2. Tanamkan Pendidikan Agama secara maksimal
  3. Kokohkan wawasan Kebangsaan 
  4. Kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia 
  5. Jangan Lupakan sejarah Bangsa 
  6. Cintai Tanah Air Secara Utuh 
D. SIAPA PIHAK YANG HARUS BERTANGGUNGJAWAB TERHADAP TERJADINYA KENAKALAN REMAJA
  1. Orang Tua 
  2. Sekolah 
  3. Pemerintah 
  4. Masyarakat 
  5. Tokoh Agama 
  6. Tokoh Adat
E. PANDANGAN UMUM TERHADAP PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR
Banyak pihak yang Sering menuduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Misalnya Data yang di peroleh di Jakarta tidak mendukung hal ini, sebab dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Selain itu ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.

Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.

Secara sanksi, tidak ada rasa takut terhadap sanksi hukum yang berlaku saat ini. mereka menganggap saaat ini tidak ada tindakan hukum yang membuat efek jera, mereka merasa dilindungi oleh HAM sehingga mereka yang dibawah umur merasa bebas untuk melakukan apapun karena hukum tidak akan menjerat secara tegas.

F. TINJAUAN PSIKOLOGI PENYEBAB REMAJA TERLIBAT PERKELAHIAN PELAJAR
Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (sering disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.

Terima kasih telah membaca artikel ini sampai selesai, semoga bermanfaat. Berikan Saran dan Komentar yang membangun dan bermanfaat. 

0 Response to "Menyikapi Maraknya Tawuran Pelajar Saat ini"

Post a Comment

Silahkan beri komentar yang relevan dan membangun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel